Surat Al-Baqarah Ayat 264

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Surat An-Nisa Ayat 142

 

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Surat An-Nisa Ayat 38

 

وَٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۗ وَمَن يَكُنِ ٱلشَّيْطَٰنُ لَهُۥ قَرِينًا فَسَآءَ قَرِينًا

 

Artinya: Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

Termasuk dosa yang paling besar disisi Allah Shubhanahu wa Taala ialah menyekutukan Dirinya dengan selain Allah azza wa jalla. Hal itu, sebagaimana sangat tegas Allah Shubhanahu wa Taala nyatakan dalam sebuah firman -Nya:

 

 وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ  [ الحج: 31]

 

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.  [al-Hajj/22: 31).

Dalam surat al-Ma’un Allah Shubhanahu wa Taala mencela orang-orang yang sholat, numun ditujukan bukan untuk -Nya. Dimana Allah Shubhanahu wa Taala berfirman:

 

 فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ – ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ – ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ – وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ  [ الماعون: 4-7]  

 

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.  [al-Maa’un/107: 4-7].

 


وَعَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ: اَلرِّيَاءُ.” أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ.

 

Dari Mahmud bin Labid radhiyallāhu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ialah syirik kecil, yaitu riya’.”

(HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

Dalam sebuah hadits disebutkan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

 

“Barangsiapa (beramal) tujuannya untuk didengar (oleh manusia) maka Allah akan memperdengarkan padanya. Dan barangsiapa (beramal) dengan tujuan supaya dilihat (orang) maka Allah akan memperlihatkan padanya“. [HR Bukhari no: 6499. Muslim no: 2987].

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, dari Abu Hindun ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ قَامَ مَقَامَ رِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ رَايَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَسَمَّعَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

 

“Barangsiapa yang berdiri karena riya’ dan sum’ah, maka Allah akan membuka serta memperlihatkan aibnya kelak pada hari kiamat“. [HR Ahmad 37/7 no: 22322].

Dan riya’ ini sejatinya adalah syirik yang tersembunyi. Seperti diterangkan dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari rumahnya, lalu bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَشِرْكَ السَّرَائِرِ ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا شِرْكُ السَّرَائِرِ؟ قَالَ: ” يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ » [ أخرجه ابن خزيمة ]

 

“Wahai manusia, hati-hatilah kalian dari kesyirikan yang tersembunyi”. Maka para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apa kesyirikan yang tersembunyi itu? Beliau menjawab: “Seseorang yang berdiri mengerjakan sholat, lalu dirinya memperbagusi sholat dengan sungguh-sungguh tatkala ada manusia yang melihat kepadanya. Itulah yang dinamakan syirik yang tersembunyi“. [HR Ibnu Khuzaimah 2/67 no: 937. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam shahih Targhib wa Tarhib 1/119 no: 31].

Riya’ juga termasuk syirkun asghar (syirik kecil). Sebagaimana dipaparkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari sahabat Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً » [أخرجه أحمد]

 

“Sesungguhnya tidak ada yang paling aku khawatirkan atas kalian dari pada syirik kecil”. Para sahabat bertanya: “Apa syirik kecil itu wahai Rasulallah? Beliau berkata: “Riya’. Allah ta’ala kelak akan berkata pada hari kiamat apabila manusia telah menerima balasan selaras amalannya masing-masing: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ padanya ketika didunia, lalu lihatlah apakah kalian menjumpai disisinya balasan?!  [HR Ahmad 39/39 no: 2363].

 

Artinya amalan orang yang berbuat riya’ itu hilang, di mana kelak pada hari kiamat mereka disuruh untuk mendatangi orang-orang yang dirinya berbuat riya’ padanya ketika didunia, lalu dikatakan padanya: ‘Lihatlah apakah kalian mendapati ganjarannya“. Maksudnya mereka-mereka yang kalian berusaha untuk memperbagusi amalan dihadapannya ketika didunia, apakah kalian mendapati disisi mereka pahala?!.

“…ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه”

 

“…dan seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada asalnya bersedekah dnegan sembunyi-sembunyi itu lebih utama. Berdasarkan firman Allah ta’ala

 

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيرٌ لَّكُمْ

 

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS Al Baqarah : 271).

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairoh –rodhiallahu’anhu– dari Nabi –shollallahu ‘alaihi wasallam– ia bersabda :

 

سبعة يظلهم الله في ظله، يوم لا ظل إلا ظله…”، وذكر منهم: “ورجل تصدق بصدقة فأخفاها؛ حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

 

Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …(dan disebutkan salah satu dari mereka)… dan laki-laki yang bersedekah kemudian menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya” (Muttafaq ‘alaih) (HR. Al Bukhari 660, Muslim 1031 dengan riwayat sampai “hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya”).

Ini adalah hukum asal dari sedekah, bahwa menyembunyikannya lebih utama. Akan tetapi jika terdapat manfaat yang lebih besar dengan menampakkannya, seperti contohnya (pada masalah zakat) jika dilakukan dengan sembunyi-sembunyi maka akan terdapat prasangka buruk yaitu dianggap tidak membayarkan zakat. Atau manusia akan mencontoh untuk bersedekah jika menampakkan zakatnya, maka hal tersebut termasuk dalam makna hadits

 

من سنّ سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة

 

Barangsiapa yang membuat contoh yang baik maka dia akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang beramal dengannya sampai hari kiamat” (Dikeluarkan oleh Muslim 4/2060).

riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharap pengagungan, pujian, serta penghormatan dari orang yang melihatnya.

Sementara sum’ah adalah beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain. Antara riya’ dan sum’ah ada perbedaan. Riya’ berkaitan dengan indra mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra telinga.

Penyakit hati seperti riya’ dan sum’ah harus dihindari agar tidak merusak amal ibadah.

Riya (Memperlihatkan): Dilakukan saat beramal, dengan tujuan ingin dilihat oleh orang lain dan dipuji, seperti shalat yang diperlama atau sedekah terang-terangan.

Sum’ah (Memperdengarkan): Dilakukan setelah beramal, dengan tujuan ingin didengar atau diberitahukan kepada orang lain agar mendapat pujian, seperti menceritakan sedekah yang sudah lewat.

Waktu: Riya biasanya terjadi saat atau sebelum amal, sementara sum’ah terjadi setelah amal selesai.

Persamaan: Keduanya merupakan penyakit hati, termasuk syirik kecil (ashgar), dan menghapus pahala ibadah. 

 

beberapa ciri-ciri yang kerap tidak disadari :

  • Selalu menyebut dan mengungkit amal baik yang pernah dilakukan
  • Beramal hanya sekadar ikut-ikutan bersama orang lain
  • Malas atau enggan melakukan amal shaleh apabila tidak dilihat oleh orang lain
  • Melakukan amal kebaikan apabila sedang berada di tengah khalayak ramai
  • Amalannya selalu ingin dilihat dan didengar agar dipuji oleh orang lain
  • Ekspresi amal berbeda karena sedang dilihat oleh orang lain atau tidak
  • Tampak lebih rajin dan bersemangat dalam beramal saat mendapat sanjungan, sebaliknya semangatnya akan turun apabila mendapat cemoohan dari orang lain.

 

beberapa cara menghindari agar tidak terkena sifat riya’ dan sum’ah :

  • Memfokuskan niat ibadah, bahwa ibadah kita hanya untuk Allah;
  • Hindari sikap suka memamerkan sesuatu yang kita punya, karena pada hakikatnya yang kita punya itu hanyalah milik Allah;
  • Tidak menimbulkan kecemburuan sosial bagi orang lain;
  • Saling menasihati dan mengingatkan jika di antara kita ada yang berperilaku riya’;
  • Membiasakan diri bersyukur pada Allah;
  • Melakukan ibadah dengan khusyu’ baik di tempat ramai maupun di tempat sunyi;
  • Senantiasa berdzikir kepada Allah dan selalu berlindung kepada Allah agar kita dijauhkan dari sifat riya’ dan sum’ah.
  •